Gakorpan Riau Desak Polres Kuansing Hentikan “Drama Penertiban” PETI: Jangan Lagi Main Cantik!

Uncategorized66 Dilihat

Riau – Presesimedia.com

Penertiban aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Pulau Bayur, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, yang dilakukan jajaran Polres Kuansing pada Selasa (7/10/2025), justru menuai kritik keras dari LSM Gerakan Anti Korupsi dan Penyelamatan Aset Negara (Gakorpan) Provinsi Riau.

Baca juga :

*Wartawan Senior Ayub Kelana Diduga Dianiaya saat Penertiban PETI di Kuansing — LSM Desak Kapolda Turun Tangan* 

Ketua DPD Gakorpan Riau, Rahmad Panggabean, menilai langkah aparat kepolisian di bawah komando Kapolres Kuansing, AKBP Raden Ricky , belum menunjukkan komitmen serius dalam memberantas praktik PETI yang telah lama merusak lingkungan dan menodai wibawa penegakan hukum di daerah itu.

 

“Kapolres Kuansing jangan lagi bermain cantik. Jika memang ingin menegakkan hukum, lakukan dengan tegas dan tuntas. Jangan hanya pencitraan di lapangan, sementara praktiknya tetap dibiarkan,” ujar Rahmad lewat sambungan telepon dari Mabes Polri, Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Rahmad menyoroti insiden brutal di lokasi penertiban di Cerenti, di mana seorang wartawan, Ayub Kelana, menjadi korban penganiayaan sekelompok preman yang diduga terlibat dalam jaringan PETI. Tidak hanya itu, kendaraan dinas milik Kapolres dan mobil operasional Polres Kuansing turut dirusak.

“Ini sudah keterlaluan. Jika aparat sendiri diserang, artinya para pelaku sudah merasa kebal hukum. Tutup permanen semua aktivitas PETI di Kuansing, jangan hanya seremonial,” tegasnya.

Baca Juga 

*Pembataian oleh Mafia Tambang Emas di Kuansing:* 

 https://presisimedia.com/pembataian-oleh-mafia-tambang-emas-di-kuansing/

Lebih lanjut, Rahmad juga menilai penertiban PETI di Desa Serosah, Kecamatan Hulu Kuantan yang dipimpin Kapolsek AKP Pardomuan Aris Suranta, S.H., M.H., tidak lebih dari formalitas untuk meredam sorotan publik.

“Begitu ada berita viral, baru bergerak. Saat turun ke lapangan, yang dibakar cuma satu unit asbuk PETI yang bahkan tidak beroperasi. Inikan akal-akalan. Bisa saja sudah dikabari duluan ke pelaku untuk hentikan sementara aktivitas dan sembunyikan alat,” sindirnya.

Rahmad bahkan mengungkap adanya dugaan praktik suap untuk membungkam kritiknya. Ia mengaku dihubungi oleh seseorang bernama Leon, yang disebut-sebut sebagai “kaki tangan” salah satu pemilik PETI, dan ditawari sejumlah uang agar tak mempermasalahkan penertiban tersebut.

Baca juga 

*LSM P2NAPAS Soroti Lambannya Respons Pemerintah Terhadap Hak Korban Kebakaran DKI Jakarta* 

 https://presisimedia.com/lsm-p2napas-soroti-lambannya-respons-pemerintah-terhadap-hak-korban-kebakaran-dki-jakarta/

“Saya tidak bergeming dengan iming-iming itu. Tak lama setelah saya tolak, barulah penertiban dilakukan. Jadi saya yakin ini semua hanya formalitas,” ujarnya.

Ia meminta Kapolres Kuansing dan seluruh Kapolsek di wilayah hukum Polres Kuansing agar menutup semua ruang bagi aktivitas ilegal tersebut, serta menindak tegas jika ada aparat yang terlibat atau menjadi backing para pelaku PETI.

“Jika Polri mau mengembalikan kepercayaan publik, bersihkan dulu internalnya dari oknum-oknum yang memperjualbelikan hukum,” pungkas Rahmad.

Kapolres Kuansing AKBP Raden Ricky dan Kapolda RiauIrjen. Pol. Herry Heryawan juga telah dikonfirmasi terkait pernyataan Ketua LSM Gakorpan. Namun hingga berita ini diterbitkan, keduanya belum memberikan respon resmi. Media ini masih menunggu klarifikasi dari Polres Kuansing dan Polda Riau untuk keberimbangan pemberitaan.

Baca juga

 https://presisimedia.com/ledakan-oksigen-rsud-pasbar-polda-masih-menyidik-publik-menuntut-jawaban-tegas/

 

(Tim Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *