Ledakan Oksigen Guncang RSUD Pasbar: Nyawa Pasien Jadi Taruhan, Manajemen Dinilai Lalai

Pasaman Barat – Presesimedia.com

Ledakan tabung oksigen di RSUD Pasaman Barat (RSUD Pasbar) bukan sekadar insiden, tetapi tamparan keras bagi dunia kesehatan daerah. Korban luka serius akibat ledakan ini membuka fakta pahit: rumah sakit yang seharusnya menjadi benteng keselamatan pasien justru menyimpan celah fatal yang membahayakan nyawa.

Tabung oksigen, yang seharusnya menjadi penopang hidup, berubah menjadi sumber ancaman mematikan. Pertanyaan yang tak bisa dihindari: bagaimana rumah sakit dengan fasilitas memadai membiarkan risiko sebesar ini terjadi?

Transparansi Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban

Publik berhak mendapat jawaban jelas:

1. Kronologi pasti ledakan tabung oksigen.

2. Langkah medis tanggap darurat untuk korban.

3. Kondisi terakhir korban yang harus dirujuk ke Padang.

4. Penerapan standar keselamatan dan prosedur pemeliharaan tabung oksigen.

5. Bentuk pertanggungjawaban nyata RSUD terhadap korban dan keluarga.

Kritikan Pedas dari LSM P2NAPAS

Ahmad Husein Batu Bara, Ketua Umum LSM P2NAPAS Perkumpulan Pemuda Nusantara Pas-Aman, menegaskan:

“Ini bukan sekadar kecelakaan, ini bukti ketidakprofesionalan manajemen RSUD Pasbar. Nyawa pasien tidak bisa dikompromikan dengan birokrasi lamban atau protokol yang setengah-setengah.”

Baca juga :

80 Tahun Indonesia Merdeka, Warga Jorong Penantian Masih Terpinggirkan: Rindukan

 PLN Hadirkan Cahaya

 https://presisimedia.com/80-tahun-indonesia-merdeka-warga-jorong-penantian-masih-terpinggirkan-rindukan-pln-hadirkan-cahaya/

Batu Bara menambahkan bahwa insiden ini membuka tirai lemahnya pengawasan teknis dan manajemen risiko di rumah sakit publik:

> “Keselamatan pasien bukan angka di anggaran, tapi soal nyawa manusia. Manajemen yang lalai harus bertanggung jawab.”

Pemerintah Daerah Tidak Bisa Lagi Bersembunyi

Bupati Pasaman Barat, H. Yulianto, sebelumnya menilai pelayanan rumah sakit cukup baik. Ledakan ini secara langsung menantang klaim tersebut. Celah serius yang luput dari pengawasan—baik teknis maupun manajemen risiko—menjadi bukti kegagalan pengawasan.

Pemerintah daerah kini tidak bisa lagi hanya mengandalkan retorika pelayanan prima. Publik menuntut tindakan nyata: audit menyeluruh, perbaikan prosedur keselamatan, dan pertanggungjawaban yang tak bisa ditawar terhadap korban.

Baca juga

*LSM P2NAPAS Desak Kejati Jambi Tegas Tuntaskan Kasus Ilegal Drilling Yan Kincai* 

 https://presisimedia.com/lsm-p2napas-desak-kejati-jambi-tegas-tuntaskan-kasus-ilegal-drilling-yan-kincai/

Ledakan tabung oksigen ini harus menjadi alarm serius bagi RSUD Pasbar dan Pemkab Pasaman Barat. Dari prosedur keselamatan, pemeliharaan sarana, hingga komitmen moral manajemen rumah sakit—semua harus dievaluasi secara tuntas. Keselamatan pasien adalah amanat moral dan konstitusi, bukan kewajiban administratif semata.

RSUD Pasbar dan Pemda dihadapkan pada pilihan: buktikan profesionalisme dan tanggung jawab, atau terperosok dalam birokrasi yang merusak legitimasi moral di mata masyarakat.

Baca juga

https://kompasnews.co.id/janji-uhc-plus-tinggal-kenangan-pemda-pasaman-barat-dinilai-abai-bung-basit-dan-lsm-p2napas-angkat-suara/

Media ini masih berupaya mencari konfirmasi dari pihak RSUD Pasbar, Pemda Pasaman Barat, dan kepolisian.

Ismail Hasan

Redaksi Presesimedia.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *