
Dugaan peran oknum jurnalis dalam mengatur keamanan alat berat tambang emas tanpa izin dari Sijunjung hingga Solok Selatan mencoreng wajah profesi media dan menodai upaya penegakan hukum di daerah.
Oleh Redaksi
Sijungjung – Presesimedia.com Di tengah derasnya arus pemberantasan tambang ilegal di Sumatera Barat, justru muncul ironi yang menyengat: di balik suara mikrofon dan kamera, ada nama-nama yang bermain di sisi gelap tambang emas ilegal. Informasi yang beredar menyebut seorang berinisial BR, dikenal publik sebagai wartawan dari salah satu stasiun televisi nasional, justru diduga berperan sebagai koordinator keamanan alat berat (excavator) di jaringan tambang emas ilegal yang membentang dari Sijunjung hingga Solok Selatan.
Nilai yang berputar di balik layar pun tak kecil. Disebut-sebut setiap unit alat berat dikenakan “biaya keamanan” mencapai Rp8 juta per bulan — angka yang menunjukkan bahwa aktivitas ilegal ini telah memiliki sistem pungutan yang rapi, nyaris menyerupai struktur formal.
Jika kabar ini benar adanya, maka kita sedang menyaksikan degradasi etika di dua lini sekaligus: jurnalisme dan penegakan hukum. Wartawan yang semestinya berdiri di garis terdepan membongkar kejahatan tambang, justru diduga menjadi bagian dari rantai pelindungnya. Ironi ini bukan sekadar pelanggaran moral individu, tetapi bentuk penghianatan terhadap amanah publik.
Kondisi seperti ini menuntut tindakan tegas, bukan basa-basi. Aparat penegak hukum harus berani menelusuri sumber pendanaan dan jaringan keamanan tambang emas ilegal yang kian masif ini. Di sisi lain, lembaga media tempat oknum tersebut bernaung perlu menunjukkan integritas: melakukan audit etik dan memastikan bahwa label “wartawan” tidak disalahgunakan sebagai tameng bisnis gelap.
Masyarakat Sumatera Barat sudah lama lelah dengan paradoks hukum — di mana tambang ilegal dibiarkan hidup nyaman, sementara sungai-sungai tercemar dan rakyat kecil kehilangan hak atas lingkungan yang bersih. Saatnya pemerintah dan media introspeksi bersama: jangan biarkan profesi mulia dijadikan seragam bagi mafia tambang.
Tambang ilegal bukan hanya merusak alam, tapi juga merusak moral bangsa. Dan ketika mereka yang seharusnya menjadi mata dan telinga publik justru ikut menjaga aktivitas ilegal itu, maka yang mati bukan hanya sungai dan hutan — melainkan nurani profesi itu sendiri.
Saat dikonfirmasi terkait dugaan perannya dalam aktivitas tambang emas ilegal tersebut, BR belum memberikan tanggapan hingga berita ini diturunkan.
Bersambung terus….
Redaksi.
