Api di Tengah Pesta: Antara Euforia dan Kelalaian di Balik HUT ke-80 Pasaman

PEMERINTAHAN199 Dilihat

Pasaman— Presesimedia.com. Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kabupaten Pasaman yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan dan kebersamaan justru diwarnai tragedi. Empat orang mengalami luka bakar, dan satu lainnya pingsan akibat insiden letusan kembang api di arena pasar malam Sabtu malam (4/10/2025).

Baca Juga 

*Anggaran HUT Pasaman ke-80 Dipertanyakan, Publik Desak Pemkab Transparan* 

 https://presisimedia.com/anggaran-hut-pasaman-ke-80-dipertanyakan-publik-desak-pemkab-transparan/

Ironis. Di tengah gegap gempita “Pesta Rakyat” yang digadang-gadang Pemkab Pasaman sebagai wujud kemeriahan dan kebersamaan, justru keselamatan publik terabaikan. Kilatan cahaya yang semestinya jadi simbol sukacita, berubah menjadi semburan panas yang membakar kulit dan trauma warga.

Sejumlah saksi mata menyebut, letupan kembang api yang diarahkan dari atas panggung justru jatuh ke tengah kerumunan penonton. Panik, jerit, dan tangis bercampur di udara malam yang sesak dengan bau mesiu. Di IGD RS Tuanku Imam Bonjol, terlihat jelas potret kelalaian: pelajar putri SMA dengan luka bakar di tangan dan kaki, dua korban lain mengalami cedera mata dan bahu, sementara satu warga pingsan akibat shock.

Semua ini terjadi di acara yang dikelola oleh panitia resmi Pemerintah Daerah. Pertanyaannya: di mana standar keamanan acara publik itu diterapkan? Adakah uji teknis dan prosedur keselamatan sebelum kembang api dinyalakan? Apakah aparat dan panitia benar-benar memahami bahwa kerumunan masyarakat bukan ruang eksperimen pertunjukan efek visual?

 

Masyarakat tentu berhak merayakan HUT daerahnya. Tapi lebih dari sekadar pesta dan panggung megah, pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk menjamin keselamatan setiap jiwa yang hadir. Tak ada kebanggaan yang sepadan dengan satu kulit terbakar karena keteledoran.

Momentum “kebangkitan dan kebersamaan” yang didengungkan Sekda Pasaman, Yudesri, semestinya tidak berhenti pada retorika panggung. Evaluasi menyeluruh harus dilakukan—dari standar keselamatan, perizinan acara, hingga kinerja panitia pelaksana.

Kita tidak butuh pesta megah yang membahayakan. Kita butuh pemerintah yang cerdas, sigap, dan sensitif terhadap keselamatan rakyatnya. Karena sejatinya, keberhasilan sebuah perayaan bukan diukur dari kembang api yang menghiasi langit, melainkan dari senyum warga yang pulang dengan selamat ke rumahnya masing-masing.

Baca juga 

*Pasaman Barat Diingatkan BPK: Kelebihan Bayar Ratusan Juta Tak Kunjung Dikembalikan* 

 https://presisimedia.com/pasaman-barat-diingatkan-bpk-kelebihan-bayar-ratusan-juta-tak-kunjung-dikembalikan/

 

Pasaman boleh bangga dengan usianya yang ke-80, tapi luka bakar di kulit rakyat harus menjadi cermin: bahwa kebanggaan tanpa kehati-hatianadalah kesia-siaan.

 

Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *